Read eBook ☆ Semusim dan Semusim Lagi Ü Paperback Ø Andina Dwifatma


ePub Semusim dan Semusim Lagi

Read eBook ☆ Semusim dan Semusim Lagi Ü Paperback Ø Andina Dwifatma Ò [PDF / Epub] ☆ Semusim dan Semusim Lagi Author Andina Dwifatma – Insolpro.co.uk Pemenang Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012 “ditulis dengan teknik penceritaan yang intens serius eksploratif Jol di kata kataMenepis dalam kelakar sonder dustaHarum anak daraMengimbau dari seberang benuaMari Dik tak lama hidup iniSemusim dan semusim lagiBurung pun berpulanganMari Dik kekal bisa semua iniPeluk goreskan di tempat iniSebelum kapal dirapatkanSitor Situmorang 1953Dari sebuah sajak seorang penulis memindahkan suatu baris dan menjadikannya suatu judul lantas “Jawabannya tertiup di angin Itu bisa bermakna bahwa jawaban yang kaucari telah begitu jelas seolah olah ada di depan wajahmu seolah olah ada di depan wajahmu sedari tadi hanya kau tak menyadarinya Kebanyakan manusia seperti itu Karena sibuk emncari di luar ia tidak menyadari apa yang dicarinya sudah ada dalam diri sendiri” –Semusim dan Semusim Lagi hlm 102 Sehari setelah lulus SMA aku menerima dua lembar surat Yang satu adalah surat dari universitas swasta tempatku mendaftar sebagai mahasiswa jurusan Sejarah Yang satu lagi adalah surat beramplop cokelat dengan label namaku di bagian depan namun tanpa nama pengirim di bagian atasSayangnya hari itu bukan hari yang tepat untuk bermain tebak tebakan Isinya membuatku mengerjapkan mata Dari deretan kata yang tertulis di dalamnya Tiba tiba saja ada seorang laki laki yang mengaku sebagai ayahku Dan dari mana aku tahu itu benar?Laki laki itu tinggal di kota S Di dalam amplopnya ia juga menyertakan kartu nama seorang teman yang mana aku bisa menghubunginya jika ingin bertemu dengan ayahSemenjak kedatangan surat itu aku selalu penasaran dengan sosok ayah Aku bertanya ke ibu tapi ibu malah marah dan menjerit kesetanan Ia ingin aku enyah Raib dari kehidupannya setelah pertanyaanku mengenai kota S kota tempat tinggal ayahAku dijemput J J Henri bawahan ayah seperti yang tertera di kartu namanya Ia membawaku ke sebuah rumah yang katanya dibeli ayah beberapa tahun lalu Lantas mempertemukanku dengan Muara putranya yang mengambil kuliah arsitektur di luar kotaMuara punya wajah yang mulus Dan aku menyukainya Beberapa kali kepala kami bersentuhan saat sedang berbaring beberapa kali aku merasa sangat ingin menciumnya Kala itu ketika Muara menciumku dengan tidak sengaja Lantas hal hal tidak sengaja lainnya pun terjadi padaku termasuk ketika tak sengaja menemukan Sobron si ikan mas koki perliharaan Oma Jaya duduk di meja makankuSebelumnya saya ingin berterima kasih dahulu kepada Kak Raafi dari blog buku Bibliough karena sudah meminjamkan bacaan liar ini Seperti yang sudah saya katakan tentang ‘liar’ ada dua pilihan tentang ulasan ini membacanya atau merasa terkejut seperti saya yang serta merta terobsesi dengan ilustrasi ikan mas koki di sampul depannya Pada mulanya saya enggan membocorkan kisah menarik ini sehingga pembaca lain pun memiliki impresi seperti saya sebelumnyaNamun mendengar pertanyaan seorang rekan mengenai “ikan mas koki” yang duduk di bangku taman itu Apakah ikan itu adalah tokoh yang penting? Saya pun menjadi tertarik untuk menulis sedikit ulasan serta mengutip penggalan kalimat yang pernah saya dengar pada adaptasi “Pintu Terlarang” karya Sekar Ayu Asmara setiap orang memiliki pintu terlarang di dalam pikirannya Dan sebagaimana hal itu terjadi aku pun diceritakan memiliki “ikan mas koki” nya secara pribadi yang mampu menyetirnya untuk melakukan hal yang tidak patut ia lakukan“Semusim dan Semusim Lagi” bukan ditujukan untuk pembaca yang tidak sabar Teknik berceritanya mungkin tidak terlalu ramah bagi pembaca dalam negeri bukan termasuk sastra tapi lebih kepada gaya menulis yang sangat eksploratif sehingga sering kali kebingungan menebak apa yang sesungguhnya menjadi pangkal dan ujung cerita ini dapat digagas Persepsi saya mengenai buku ini mirip seperti ketika membaca antalogi cerpen Maggie Tiojakin “Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa” yang mana tidak ada tema yang konkret yang menjadi landasan sebuah cerita dapat dibangun Tokoh tokohnya muncul secara acak begitu juga konfliknya yang muncul tanpa sebuah latar belakang yang jelasBaca selengkapnya di

Semusim dan Semusim LagiJol di kata kataMenepis dalam kelakar sonder dustaHarum anak daraMengimbau dari seberang benuaMari Dik tak lama hidup iniSemusim dan semusim lagiBurung pun berpulanganMari Dik kekal bisa semua iniPeluk goreskan di tempat iniSebelum kapal dirapatkanSitor Situmorang 1953Dari sebuah sajak seorang penulis memindahkan suatu baris dan menjadikannya suatu judul lantas “Jawabannya tertiup di angin Itu bisa bermakna bahwa jawaban yang kaucari telah begitu jelas seolah olah ada di depan wajahmu seolah olah ada di depan wajahmu sedari tadi hanya kau tak menyadarinya Kebanyakan manusia seperti itu Karena sibuk emncari di luar ia tidak menyadari apa yang dicarinya sudah ada dalam diri sendiri” –Semusim dan Semusim Lagi hlm 102 Sehari setelah lulus SMA aku menerima dua lembar surat Yang satu adalah surat dari universitas swasta tempatku mendaftar sebagai mahasiswa jurusan Sejarah Yang satu lagi adalah surat beramplop cokelat dengan label namaku di bagian depan namun tanpa nama pengirim di bagian atasSayangnya hari itu bukan hari yang tepat untuk bermain tebak tebakan Isinya membuatku mengerjapkan mata Dari deretan kata yang tertulis di dalamnya Tiba tiba saja ada seorang laki laki yang mengaku sebagai ayahku Dan dari mana aku tahu itu benar?Laki laki itu tinggal di kota S Di dalam amplopnya ia juga menyertakan kartu nama seorang teman yang mana aku bisa menghubunginya jika ingin bertemu dengan ayahSemenjak kedatangan surat itu aku selalu penasaran dengan sosok ayah Aku bertanya ke ibu tapi ibu malah marah dan menjerit kesetanan Ia ingin aku enyah Raib dari kehidupannya setelah pertanyaanku mengenai kota S kota tempat tinggal ayahAku dijemput J J Henri bawahan ayah seperti yang tertera di kartu namanya Ia membawaku ke sebuah rumah yang katanya dibeli ayah beberapa tahun lalu Lantas mempertemukanku dengan Muara putranya yang mengambil kuliah arsitektur di luar kotaMuara punya wajah yang mulus Dan aku menyukainya Beberapa kali kepala kami bersentuhan saat sedang berbaring beberapa kali aku merasa sangat ingin menciumnya Kala itu ketika Muara menciumku dengan tidak sengaja Lantas hal hal tidak sengaja lainnya pun terjadi padaku termasuk ketika tak sengaja menemukan Sobron si ikan mas koki perliharaan Oma Jaya duduk di meja makankuSebelumnya saya ingin berterima kasih dahulu kepada Kak Raafi dari blog buku Bibliough karena sudah meminjamkan bacaan liar ini Seperti yang sudah saya katakan tentang ‘liar’ ada dua pilihan tentang ulasan ini membacanya atau merasa terkejut seperti saya yang serta merta terobsesi dengan ilustrasi ikan mas koki di sampul depannya Pada mulanya saya enggan membocorkan kisah menarik ini sehingga pembaca lain pun memiliki impresi seperti saya sebelumnyaNamun mendengar pertanyaan seorang rekan mengenai “ikan mas koki” yang duduk di bangku taman itu Apakah ikan itu adalah tokoh yang penting? Saya pun menjadi tertarik untuk menulis sedikit ulasan serta mengutip penggalan kalimat yang pernah saya dengar pada adaptasi “Pintu Terlarang” karya Sekar Ayu Asmara setiap orang memiliki pintu terlarang di dalam pikirannya Dan sebagaimana hal itu terjadi aku pun diceritakan memiliki “ikan mas koki” nya secara pribadi yang mampu menyetirnya untuk melakukan hal yang tidak patut ia lakukan“Semusim dan Semusim Lagi” bukan ditujukan untuk pembaca yang tidak sabar Teknik berceritanya mungkin tidak terlalu ramah bagi pembaca dalam negeri bukan termasuk sastra tapi lebih kepada gaya menulis yang sangat eksploratif sehingga sering kali kebingungan menebak apa yang sesungguhnya menjadi pangkal dan ujung cerita ini dapat digagas Persepsi saya mengenai buku ini mirip seperti ketika membaca antalogi cerpen Maggie Tiojakin “Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa” yang mana tidak ada tema yang konkret yang menjadi landasan sebuah cerita dapat dibangun Tokoh tokohnya muncul secara acak begitu juga konfliknya yang muncul tanpa sebuah latar belakang yang jelasBaca selengkapnya di

eBook ð Semusim dan Semusim Lagi æ Andina Dwifatma

Semusim dan Semusim Lagi Å Pemenang Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012 “ditulis dengan teknik penceritaan yang intens serius eksploratif dan mencekam”Dewan Juri Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012Surat Kertas HijauSegala kedaraannya tersaji hijau mudaMelayang di lembaran surat musim bungaBerita dari jauhSebelum kapal angkat sauhSegala kemontokan menon Saya sepakat dengan resensi buku dari Satyo A Saputro Mengurai isi buku ini dengan sebutan berisi Berikut ulasannya saya posting kembali di siniMengapa saya harus mempostingnya kembali? Satyo A Saputro memberi nama tokoh Aku dengan nama Nurul Kebetulan? mungkin saja Tapi terkadang saya adalah anak gila itu Menyendiri di sudut kelas dengan membaca novel ketika teman teman sekelas sibuk mengerjakan PR Mate matika atau FisikaOleh Satyo A SaputroSatu hal yang ingin saya katakan di awal sebelum saya bicara panjang lebar bahwa membaca novel Semusim dan Semusim Lagi selanjutnya akan disebut Semusim karya Andina Dwifatma mengingatkan saya pada banyak hal Salah satunya adalah pada novel Misteri Soliter karya Jostein Gaarder Memang tidak persis sama dan bahkan ada banyak hal yang berbeda tapi kemunculan Sobron ikan mas koki yang bisa bicara itu membawa ingatan saya akan kartu kartu remi yang hidup di novel tersebut Setidaknya ada semangat surealisme yang serupaSementara di sisi lain entah sebuah kebetulan atau memang sesuatu yang disengaja alur pembuka Semusim ini juga memiliki kemiripan dengan novel Jostein yang lain yaitu Dunia Sophie di mana pada suatu hari seorang gadis remaja menerima sepucuk surat misterius Jika di Dunia Sophie sang gadis menerima sepucuk surat yang berisikan sebuah pertanyaan “Siapa kamu?” sementara tokoh di Semusim menerima sepucuk surat dari seseorang yang mengaku sebagai ayahnyaAdegan di rumah sakit jiwa juga mengingatkan saya pada novel Veronika Decides to Die karya Paulo Coelho di mana sang tokoh utama diberi berbagai macam obat yang tak perlu hingga keadaannya justru semakin memburuk dan pada suatu ketika melihat pasien lain yang sedang disetrum oleh petugasLalu apa yang salah? Tidak ada Saya cuma mau bilang bahwa novel ini mengingatkan saya pada banyak hal termasuk pada seorang kawan sekelas saya waktu SMA yang gemar menyendiri dan tak suka bergaul dengan banyak orang Ketika itu sementara gadis gadis lain suka membaca majalah remaja semacam Aneka Yess atau Kawanku kawan perempuan saya itu lebih suka membaca majalah Misteri dan Liberty Mungkin dia memang tidak benar benar memiliki masalah kejiwaan seperti tokoh ‘aku’ di novel Semusim tapi setidaknya saat itu saya dan kawan kawan yang lain menganggapnya begitu Untuk itulah mulai dari sekarang saya secara semena mena dan tanpa persetujuan penulis akan menyebut tokoh ‘aku’ dengan nama kawan saya itu NurulTentu saja tindakan kurang ajar ini boleh digugat Namun saya terinspirasi sang tokoh ‘aku’ di novel Semusim yang gemar mengganti nama orang lain yang dirasanya kurang menarik atau menyematkan nama sesukanya ke orang yang tidak dia kenal Lihat saja bagaimana dia menyebut ayahnya sebagai ‘Joe’ hanya karena nama sang ayah ternyata tidak sekeren yang dia bayangkan sementara semua lelaki hebat dan keren yang diketahuinya pasti bernama Joe hlm 58 Juga bagaimana dia menyebut seorang polisi wanita dengan nama ‘Maria’ karena perempuan itu memiliki wajah sedih seperti ibu yang anaknya disalib orang hlm 146 Toh kata Barthes ketika sebuah teks terlahir maka sang pengarang sudah ‘mati’ bukan?Secara garis besar ide dasar novel Semusim ini terbilang sederhana yaitu tentang kondisi kejiwaan seorang remaja perempuan yang tak pernah mengenal ayahnya sejak kecil Namun berkat kepiawaian penulis dalam bertutur dan memainkan alur ide dasar yang sebenarnya sederhana itu menjelma sebuah kisah yang menarik dan lumayan menyenangkan untuk diikutiDiceritakan di novel Semusim saat mempersiapkan diri untuk memulai kuliah di jurusan Sejarah di sebuah universitas swasta Nurul menerima sebuah surat dari seseorang yang mengaku sebagai ayahnya Memenuhi undangan sang ayah dia meninggalkan rumah ibunya untuk kemudian tinggal di sebuah rumah yang dipersiapkan ayahnya di kota S Di kota tersebut Nurul bertemu sejumlah hal baru yang mengubah hidupnya mulai dari jatuh cinta untuk pertama kalinya dengan seorang mahasiswa bernama Muara hingga bertemu seekor ikan mas koki yang bisa bicaraSecara asyik Andina memasukkan fakta fakta di dunia nyata yang jarang diketahui orang menjadi bagian dari isi cerita Lihat saja halaman 24 yang membahas tentang larangan berambut gondrong bagi para lelaki yang pernah diberlakukan pemerintah Indonesia pada tahun ‘70 an Juga bagaimana Andina menyisipkan referensi tentang buku atau musik bagus di dalam kisahnya Menurut saya itu menyenangkan tapi seperti hal hal lain yang ada di dunia tak ada kesenangan yang sempurnaNovel dan pembacanya ibarat sepasang kekasih yang menjalin hubungan cinta Dalam sebuah hubungan satu atau dua kesalahan kecil tentu bisa dimaklumi dan bahkan dianggap sebagai semacam bumbu penyedap Namun jika kesalahan kesalahan kecil itu muncul terlalu sering tentu saja tak sehat untuk masa depan kedua belah pihak Begitu juga yang terjadi ketika saya membaca novel Semusim iniSebelum bicara lebih lanjut mungkin perlu dijelaskan bahwa apa yang saya sampaikan sama sekali bukan didasari keinginan untuk mencari cari kesalahan Bahwa semua yang nanti akan saya kemukakan adalah murni apa yang saya temukan Saya harap kita semua bisa bersepakat bahwa mencari dan menemukan adalah dua proses yang sama sekali berbedaDi halaman 42 Andina menulisSatu hal paling lucu tentang orang dewasa adalah kau bisa mengatakan hal paling konyol atau kebohongan paling musykil dan mereka tidak akan tertawa bahkan memercayai apa yang kau katakan selama kau bicara dengan gaya yang teramat meyakinkanTokoh Nurul di novel ini mungkin benar tapi sepertinya justru Andina yang lupa bahwa yang memiliki sifat ‘lucu’ semacam itu sesungguhnya bukan hanya ‘orang dewasa’ tapi juga ‘pembaca’ Sebagai penulis siapa pun punya hak mutlak untuk berbohong sesuka hati asalkan ia tampil meyakinkan Salah satu contoh penggambaran yang tidak meyakinkan adalah yang tertulis di halaman 43 di mana Nurul menceritakan bagaimana pertemuan pertamanya dengan JJ Henri seorang karyawan sekaligus kawan dekat sang ayahMobil yang dikendarai JJ Henri adalah Peugeot berwarna biru tua Aku selalu suka mobil Peugeot karena mungil dan punya lampu depan seperti mata binatang sehingga dengan plat mobil yang terletak di tengah tengah bemper ia seperti kumbang besar yang sedang nyengirBegini Penulis kisah fiksi itu tak ubahnya tukang kibul Ia boleh ngibul sesuka hati dengan menceritakan kisah yang paling absurd at eBook ð Semusim dan Semusim Lagi æ Andina Dwifatma

Andina Dwifatma æ Semusim dan Semusim Lagi ePub

Andina Dwifatma æ Semusim dan Semusim Lagi ePub Melanjutkannya dengan kalimat demi kalimat yang akhirnya terbentuk menjadi roman ini Saya kira itulah cara yang baik untuk merayakan keberadaan kata di tengah dunia yang lebih sering tak sadar bahwa kata itu ada sehingga menyia nyiakannya Namun menulis bukanlah satu satunya cara karena masih ada cara lain untuk merayakannya yakni membacanya Seno Gumira Ajidar Ketika saya menemukan buku ini di toko buku saya menganggap semua hal yang terlihat dalam tampak luar buku ini adalah kontradiktif Absurd Bagaimana tidak? Kita lihat saja kavernya Apa coba hubungan musim dengan ikan mas koki? Gimana pula ceritanya ikan mas koki bisa duduk dengan santainya?Ketika saya membalikkan buku ini untuk mencari sinopsis yang umumnya mudah ditemukan lagi lagi saya bingung Saya tidak menemukan sepatah kata pun yang bisa menjelaskan plot buku ini Malah saya menemukan kata kata Seno Gumira Ajidarma dan puisi Sitor SitumorangBaiklah saya pikir Lebih baik saya langsung membaca saja buku ini daripada sibuk menerka nerkalebih lengkap baca di sini